Desa Harus Jadi Ujung Tombak Pembangunan


Stabilitas pertumbuhan ekonomi makro dinilai hanya sebagai salah satu indikator pembangunan. Substansinya, keberhasilan ekonomi dan pembangunan harus dilihat dengan mencermati bagaimana geliat masyarakat di desa.
Artinya, membangun negara sejahtera tidak cukup hanya berpatokan pada angkaangka makro. “Pembangunan ekonomi adalah pembangunan manusia. Jangan terjebak indikator karena itu hanya salah satu instrumen. Substansinya memanusiakan manusia. Nah desa harus menjadi ujung tombak untuk itu,” kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) Firmanzah dalam Seminar “Membangun Desa, Negara Sejahtera” dalam rangkaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Jakarta kemarin.

Firmanzah mengungkapkan pentingnya membangun negara kesejahteraan berbasis komunitas di desa-desa.Untuk bisa mewujudkan itu, negara tidak boleh salah sasaran, misalnya dalam menangani kemiskinan. Negara tidak seharusnya menggunakan indikator angka kemiskinan hanya untuk statistik karena yang harus dihilangkan bukanlah masyarakat miskin, melainkan kemiskinan itu sendiri,”katanya.

Pembicara lain dalam seminar ini adalah guru besar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Gunawan Sumodiningrat dan ekonom dari UGM Anggito Abimanyu. Gunawan mengungkapkan, tujuan hidup bernegara adalah bisa hidup sehat, bahagia, dan sejahtera. Tujuan itu tidak terwujud karena ada persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan pertumbuhan.

“ Solusinya adalah pemberdayaan dan mengatasi ketimpangan. Mereka yang di atas dipegang dengan pajak, mereka yang di bawah dinaikkan dengan subsidi,”urainya. Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Setyo Budiantoro menyatakan, Indonesia saat ini merupakan satu-satunya negara yang kemiskinannya meningkat di Asia Tenggara.

Menurut data Bank Pembangunan Asia (ADB) 2011, jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat dari 40,4 jutajiwapada2008menjadi43,1 juta jiwa pada 2010.“Pemerintah bisa mengklaim angka kemiskinan terus menurun, namun kalkulasi terbaru menunjukkan penduduk miskin justru meningkat 2,7 juta jiwa pada tiga tahun terakhir,”tudingnya.

Menurut dia,Indonesia saat ini tertinggal dari Kamboja dan Laos dalam mengurangi angka kemiskinan. Hal ini diperparah dengan kesenjangan yang semakin melebar.Kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia kini setara dengan kekayaan 60 juta penduduk. Peningkatan kekayaan orang terkaya tersebut melejit rata-rata 80% selama 5 tahun terakhir, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang berkisar 6% per tahun.

“Pemerintah harus memasukkan pengurangan kesenjangan ekonomi sebagai target pembangunan,” desaknya.

Sumber: Seputar Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s