Mitigasi Bencana Gempa


“GEMPA! Gempa! Allahuakbar!” teriak murid-murid kelas 5 SDN Banyuhurip, Lembang, sambil melindungi kepala mereka dengan tas. Mereka pun berjongkok di bawah meja kelas. Beberapa detik kemudian, seorang guru berteriak kalau gempa sudah reda. Dengan tertib, sambil tetap memegangi tas sekolah di atas kepalanya, semua murid berlarian ke luar kelas menuju lapangan voli di halaman depan sekolah mereka.

Di lapangan tersebut, mereka ini berkumpul bersama teman-temannya dari kelas lainnya. Mereka saling memastikan kalau semua teman-teman sekelasnya ada bersama mereka. Mereka saling memanggil nama teman-temannya. Namun ternyata masih ada seorang murid yang tidak ada di lapangan tersebut. Mereka tidak menemukan murid bernama Yusuf (10).

“Yusuf tidak ada di sini! Dia mungkin masih tertinggal di kelas!” teriak Maya (10) kepada teman-temannya. Mendengar kabar tersebut, Agus, Anjar, dan Rizky, langsung berlari kembali ke kelasnya dengan posisi tangan melindungi kepala. Mereka ingin memastikan apakah Yusuf benar-benar masih tertinggal di dalam kelas.

Sesampainya di dalam kelas, mereka melihat Yusuf sedang terduduk di lantai. Untuk menyelamatkannya dan membawanya keluar kelas, kedua tangan Yusuf masing-masing diletakkan pada pundak Agus dan Anjar sedangkan Rizky mengangkat kaki Yusuf. Kemudian dengan langkah yang penuh kehati-hatian, mereka menggotong Yusuf keluar dari kelas menuju lapangan voli.

Melihat Yusuf datang digotong oleh tim penyelamat dadakan tersebut, semua murid yang berkumpul di lapangan voli bersorak sambil bertepuk tangan. Serentak mereka pun mengucapkan hamdallah.

Kejadian yang berlangsung pada Rabu (2/11) di SDN Banyuhurip, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), adalah melainkan sebuah simulasi tanggap bencana gempa yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat dan BPBD Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Seorang murid kelas kelas 5, Hilda (10), mengatakan ini kali pertamanya dia dan teman- temannya mengikuti simulasi tanggap gempa. Dia merasa kegiatan simulasi seperti ini sangat dibutuhkan anak sekolah dan masyarakat.

“Sebelumnya, kalau ada gempa, yang saya tahu cuma harus berlari keluar ruangan. Ketika ada gempa tahun 2009, saya cuma lari keluar rumah saja tanpa melindungi kepala saya. Sekarang kan jadi tahu, kalau masih gempa, saya harus berlindung dulu di bawah meja. Baru keluar ruangan ke lapangan terbuka sambil lindungi kepala. Sehabis itu harus mencari teman atau keluarga yang lainnya,” ujar Hilda, saat ditemui seusai melakukan simulasi di sekolahnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Barat, Dadang Ronda, mengatakan simulasi tanggap gempa yang dilaksanakan bersamaan dengan sosialisasi Desa Tangguh dan penanggulangan bencana, sangat penting diberikan kepada anak-anak.

Selain di Desa Cikahuripan dan Desa Jayagiri, Desa Gudangkahuripan, Desa Lembang, Desa Cibodas, Desa Suntenjaya, Desa Langensari, Desa Mekarwangi, Desa Cikole, dan Desa Cikidang terpilih jadi Desa Tangguh.

Sumber: TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s