30 Guru Desa Terpencil Ikut Pelatihan Minat Baca


Sebanyak 30 orang guru Sekolah Dasar (SD) yang mengajar di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau mendapatkan pelatihan gratis untuk menumbuhkan minat baca peserta didiknya, Rabu (23/11/2011) sore. Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program “Pelita Pustaka” yang telah berlangsung sejak November 2010.
Pelatihan ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan kolaboratif. Pada dua pelatihan sebelumnya, para guru itu dilatih tentang manajemen perpustakaan kecil dan mendorong budaya membaca di sekolahnya.

Pelatihan berlangsung cukup “hidup” saat 30 guru itu dibagi dalam enam kelompok. Ada dua orang trainer dari Yayasan Credo yang membimbing para guru tersebut.

Trainer itu memberikan instruksi tentang tema-tema unik seperti “Sobat Buku”, “Membaca dengan Lantang”, “Mendongeng”, dan “Baca Buku dengan Orangtua”. Saat salah satu tema dipilih, seorang guru lalu menceritakan pengalaman menerapkan pengajaran kreatif di sekolahnya.

Sobat Buku, misalnya, merupakan konsep penularan minat membaca buku yang dilakukan antara kakak kelas dengan adik kelas. Sementara, membaca dengan lantang merupakan teknik untuk meningkatkan pemamahan siswa atas bacaan.

“Dengan mendengar, mental siswa terlatih dan bacaan bisa lebih dipahami,” ujar guru SDN 005 Bukit Jaya, Supriyatno, Rabu (23/11/2011), di Ukui, Riau.

Dengan segala keterbatasan sekolah di wilayah pedalaman, para guru ini diharapkan menciptakan ide-ide kreatif untuk mengakali keterbatasan itu agar tak menjadi kendala. Persoalan utama sekolah-sekolah dasar yang terletak di tengah kebun sawit ini adalah minimnya buku.

Program Director Pelita Pendidikan Tanoto Foundation, Dewi Susanti mengatakan, ada lima sekolah yang diajak berpartisipasi dalam program Pelita Pustaka ini. Kelima sekolah itu yaitu SDN 010 Silikuan Hulu, SDN 012 Air Putih, MIN 015 Lubuk Kembang Sari, SD Permata Soga, dan SDN 005 Bukit Jaya.

Menurut Dewi, dari survei yang dilakukan, koleksi pustaka kebanyakan sekolah adalah buku-buku teks, di mana kondisi kebanyakan buku sudah koyak.

“Sekolah yang punya koleksi pustaka juga kebanyakan masih belum menggunakannya dengan baik karena guru tidak mengerti mengelolanya,” kata Dewi.

Kondisi seperti itu, kata Dewi, membuat minta baca siswa tidak tumbuh. Perlu dilakukan perbaikan manajemen pustaka dan kreativitas sang guru untuk menumbuhkan minat baca itu.

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s