Telkomsel siap bangun 102 desa pintar


Telkomsel siap membangun 102 desa pintar atau desa internet dan menggarap proyek USO (Universal Service Obligation) di 286 titik perbatasan Indonesia dengan negara lain.

Hal tersebut dilakukan menyusul kesuksesan operator selular tersebut meraih penghargaan ICT Pura untuk pengelolaan telekomunikasi di 25.444 desa dering di  daerah terpencil.

Bambang Utomo, VP Special Area Telkomsel mengatakan pengembangan proyek telekomunikasi tersebut sejalan dengan program kementerian Kominfo yang menargetkan 2014 seluruh desa dering menjadi desa pintar.

“Saat ini kami sudah mengajukan tender dan tinggal menunggu keputusan pemerintah, karena kabarnya hingga sakarang baru Telkomsel yang berani mengajukan tender tersebut,” ujar Bambang seusai menerima penghargaan ICT dan USO Award 2011 di Surabaya hari ini.

Menurut dia pembangunan proyek telekomunikasi semacam itu diperkirakan akan membutuhkan waktu satu tahun. “Kalau bisa dimulai awal 2012 maka diperkirakan akhir 2012 atau awal 2013 sudah kelar,” ujarnya.

Bambang mengatakan mengembangkan desa pintar minimal satu desa dengan dua komputer atau satu akses WiFi dengan kapasitas 512 kpbs tidak sulit.

Persoalan yang sering muncul hanya hambatan akses transportasi dan ketersediaan listrik. Namun Telkomsel optimistis bisa merampungkan semua proyek tersebut.

Apalagi sebagian besar daerah cukup kooperatif bahkan mendesak untuk segera mendapatkan akses telekomunikasi.

“Untuk daerah yang kesulitasn listrik kami menggunakan solar panel, sedangkan yang listriknya tidak stabil menggunakan automotic power backup seperti baterai. ”

Selain desa pintar Telkomsel juga siap membangun akses data dan telekomunikasi di 286 titik di daerah perbatasan termasuk di sejumlah pulau terluar.

Program USO ini meliputi desa dering, pusat layanan internet kecamatan (PLIK) dan mobile PLIK. “Kami berharap minggu depan tender proyek tersebut sudah berlangsung,” ujar Bambang.

Sebagaimana pengalaman mengembangan akses telekomunikasi di daerah terpencil kemungkinan besar kebutuhan dana untuk desa pintar tak jauh beda.

Sebagaimana diketahui untuk program merah putih yakni pengelolaan telekomunikasi di daerah terpencil operator ini telah mengeluarkan capex sebesar Rp120 juta per titik dan biaya operasional (Opex) sekitar Rp20 juta pert bulan per titik.***

SUmber: Bisnis.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s